Kiat Meningkatkan TOEFL Melebihi 550

TOEFL iBT untuk Beasiswa ke Luar Negeri
11/05/2016
11/05/2016

Kiat Meningkatkan TOEFL Melebihi 550

ABC Australia Plus Indonesia secara berkala menurunkan informasi mengenai cara mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk mahasiswa S2 dan S3. Dalam tulisan ini Heru Handika, mahasiswa S2 Universitas Melbourne, membagi pengalaman bagaimana meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.

 Ketika saya mulai kuliah S1, TOEFL saya 387. Tamat kuliah 4,5 tahun kemudian, tepatnya tahun 2013, menjadi 446. Sedangkan untuk lulus beasiswa LPDP, minimal TOEFL harus 550.

Karena saya mendaftar untuk kuliah di luar negeri lewat jalur reguler dan tanpa LoA unconditional. Setahun kemudian saya dinyatakan sebagai penerima beasiswa (awardee) LPDP.

Belum selesai sampai disitu, TOEFL yang saya pakai untuk mendaftar LPDP tidak cukup untuk menembus University of Melbourne. Saya harus mengambil TOEFL IBT yang jauh lebih sulit dari PBT —alternatif lainnya dengan mengambil IELTS.

Apakah dengan ikut kelas preparation dapat menjamin TOEFL moreket? Jawabnya tidak. Saya pernah mengambil kelas preparation, dan banyak orang lain juga mengambilnya. TOEFL meningkat. Benar. Tapi, jika kita mengejar jarak skor yang tinggi dari TOEFL sekarang, kebanyakan tidak menolong. Lalu, apa yang harus dilakukan?

1. Jangan hanya kejar TOEFL

Takkan lari TOEFL dikejar. Percayalah, jika anda berniat kuliah ke luar negeri, TOEFL saja takkan cukup. TOEFL hanya dibutuhkan sampai anda diterima. Ketika sudah diterima dan mulai berkuliah, modal sertifikat TOEFL saja akan membuat anda gila mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Kita butuh kemampuan Bahasa Inggris, bukan skor TOEFL.

Saya tahu, anda pasti tak terima? Saya menyampaikan ini karena banyak yang salah kaprah. Mati-matian mempelajari trik TOEFL, lupa bahwa TOEFL tidak hanya butuh trik, tapi kemampuan Bahasa Inggris yang sebenarnya: kemampuan mendengar, keahlian dalam membaca, pemahaman grammar, dan kemampuan menulis.

2. Perbaiki kebiasaan sehari-hari

Kebanyakan orang di Indonesia tidak diajarkan Bahasa Indonesia dari lahir. Namun, umumnya kita belajar berbahasa daerah dahulu. Kita bisa berbahasa Indonesia, karena setiap saat kita “direcoki” Bahasa Indonesia; mulai dari bacaan di sekolah sampai tayangan televisi.

Hal yang sama berlaku untuk Bahasa Inggris. Jangan gantungkan diri kepada trik-trik TOEFL. Tapi, rubah pola hidup dengan mendekatkan diri ke Bahasa Inggris. Jadikan belajar Bahasa Inggris sebagai bagian dari rutinitas. Cara ini yang saya lakukan untuk meningkatkan Bahasa Inggris saya, tentunya TOEFL juga meningkat.

3. Ganti bacaan

Jika anda terbiasa membaca berita berbahasa Indonesia, kali ini ganti dengan yang berbahasa Inggris. Jika novel anda berbahasa Indonesia, beli yang Bahasa Inggris, dan baca.

Sejak saya menyadari saya harus meningkatkan Bahasa Inggris saya, saya mengganti bahan bacaan. Aplikasi seperti Flipboard, Apple News, dan Google PlayNews menjadi teman setia. Jurnal-jurnal ilmiah juga membantu untuk ini. Berselancar di internet saya sempatkan untuk membaca artikel berbahasa Inggris.

Pada tahap awal, ini akan terasa sulit. Butuh usaha lebih untuk mendobrak rasa malas. Namun, ketika sudah menikmati, ini akan menjadi habit. Bahasa Inggris akan membukakan pintu lebih lebar untuk melihat dunia.

Pada titik saya yang sekarang, saat Bahasa Inggris telah meningkat, saya menyadari sebenarnya saya tidak sedang belajar Bahasa Inggris. Tapi, saya belajar Photography, Blogging, Programming, Statistik, dan bidang lainnya. Padahal awalnya saya hanya membaca itu untuk menambah vocabulary (perbendaharaan kata) saya. Siapa sangka, Bahasa Inggris hanya seolah menjadi bonus.

4. Katakan tidak untuk subtitle Bahasa Indonesia

Mulai sekarang, kalau anda hobi menonton film, maka katakan tidak pada subtitle Bahasa Indonesia. Pada tahap awal, bisa dengan menggunakan subtitle Bahasa Inggris. Namun, kemudian tantang diri anda untuk mencopot subtitle-nya.

Agar semuanya menjadi lebih menyenangkan, setelah terbiasa tanpa subtitle, hidupkan musik sambil menonton film atau bikin suara-suara lain yang mengganggu. Bukankah itu namanya malah menjadi tidak fokus? Justru itu, anda harus berusaha untuk fokus ke filmnya.

Di dunia sebenarnya, ketika anda berbicara dengan native speaker di ruang terbuka atau di keramaian, anda akan banyak mendengar bunyi-bunyi gaduh di sekitar anda. Jika anda tak terbiasa, anda takkan mengerti apa yang mereka sampaikan.

Pernah merasakan susahnya mencari subtitle Bahasa Indonesia? Ketika kita mengerti Bahasa Inggris, kita tak perlu lagi subtitle. Menonton Youtube terasa lebih menyenangkan, karena pilihan channel berbahasa Inggris jauh lebih banyak.

Dengan kemampuan Bahasa Inggris, banyak channel berkualitas di Youtube yang bermanfaat untuk meningkatkan skill kita. Bidang apa pun yang kita mau. Bagi yang hobi travelling, tinggal cari tips-nya. Suka Photography, banyak triknya. Tergila-gila dengan teknologi, ada juga. Jika tak mengerti Bahasa Inggris, pilihannya tentu akan sangat terbatas.

Kita hanya menghabiskan waktu sekitar 1-3 tahun untuk fokus belajar. Tapi, ilmunya berguna hingga mati nanti. Dunia pun terasa lebih luas.

5. Men-transalate Bahasa Inggris bukanlah ide bagus

Saya banyak mengenal orang, ketika dihadapkan dengan jurnal berbahasa Inggris, mereka men-translate-nya ke Bahasa Indonesia, lalu kemudian membacanya. Orang pemalas seperti saya, selalu punya cara untuk menjadikan yang ribet menjadi mudah. Cara seperti itu double efforts, tapi tak banyak bermanfaat untuk meningkatkan Bahasa Inggris.

Men-translate Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia akan membiasakan otak kita untuk men-translate-nya. Misalnya “chair”, otak kita akan men-translate-nya ke “kursi”, kemudian baru memvisualisasikan dalam bentuk objek berkaki empat yang biasa digunakan untuk duduk.

Cara berpikir seperti ini tidak efisien. Kita sebaiknya memahami Bahasa Inggris, bukan tahu arti Bahasa Indonesia-nya. Ketika dikatakan “chair”, otak kita langsung tahu itu adalah benda untuk duduk dengan kaki empat (apa pun definisinya menurut anda).

Kenapa kita bisa cepat mengerti ketika mendengar sesuatu dalam Bahasa Indonesia? Karena kita langsung mengkoneksikannya dengan objek tersebut. Begitu pun Bahasa Inggris, kalau di-translate akan lama bagi kita menangkap maksudnya. Jika lawan bicara ngomongnya cepat, kita takkan paham apa yang dia katakan. Ketika kita baru mengerti di A, dia sudah ngomong sampai H.

Bagi saya, cara terbaik yaitu belajar bagaimana orang Inggris belajar Bahasa Inggris. Gunakan Dictionary Bahasa Inggris jika kita menemui kata-kata sulit. Seperti kita menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk mengartikan Bahasa Indonesia.

Kamus Besar Bahasa Inggris (sebut saja namanya begitu) juga membantu kita dalam penggunaan kata tersebut sesuai konteksnya. Saya biasa menggunakan aplikasi smartphone, seperti Dictionary dan Worldweb, atau anda bisa membeli Oxford Pocket Dictionary. Jika anda pengguna Apple Devices (iPad, iPhone, Mac, dll), berbahagialah; pada OS nya sudah tertanam Dictionary bawaan.

Apakah TOEFL Preparation tidak penting?

Saya tidak katakan demikian. Jika Anda punya cukup duit, tak ada salahnya mengikuti. Bisa juga dengan mengikuti kursus-kursus gratis. TOEFL Preparation (atau IELTS Preparation jika anda mengambil IELTS) ini sangat membantu untuk menghindari jebakan “Batman” yang banyak ditebar pembuat soal. Yang penting, jangan gantungkan diri kita pada Tips dan Trik.

Bagaimana pun, saya percaya yang tidak instan selalu lebih baik. Investasi pendidikan, baik dalam bentuk waktu atau uang, takkan pernah berakhir merugikan. Hanya terkadang kita lebih sayang uang daripada masa depan.

Terakhir, kita belajar Bahasa Inggris bukan karena kita tidak punya rasa nasionalisme. Tapi, justru rasa nasionalisme lah yang seharusnya mendorong kita untuk mempelajari Bahasa Inggris. Dengan Bahasa Inggris kita akan bisa melihat dunia lebih luas. Permasalahan negeri kita terlalu kompleks, butuh banyak orang yang berpengetahuan luas untuk bisa memperbaikinya.

* Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan sebelumnya pernah dimuat di blog pribadi Tikus.net. Heru Handika adalah penerima beasiswa LPDP tahun 2014. Saat ini aktif sebagai mahasiswa Master of Science (Zoology) di University of Melbourne, Australia, juga aktif melakukan penelitian di Museum Victoria,  Australia.

Open source article

Leave a Reply

//]]>
Skip to toolbar